Surat Zhuge Liang Kepada Keluarganya.

 

Zhuge Liang (181–234 M) adalah penduduk asli Langya, yang hidup semasa Tiga Kerajaan. Dia adalah seorang negarawan terkenal dan ahli strategi.

Kedudukan tertingginya adalah perdana menteri. Dia menulis “Surat kepada Putra” yang ditujukan kepada putranya,  Zhuge Qiao.

Berikut isi surat yang ditulis oleh Zhuge Liang kepada putranya :

Perilaku orang yang memiliki kemampuan dan penuh dengan integritas tergantung pada perasaan paling dalam mereka, termasuk mempunyai ketenangan jiwa serta kemampuan memusatkan dan menyeimbangkan energi seseorang.

Seseorang perlu mengultivasi jiwa dan raga, yang memerlukan seseorang agar memerhatikan perilakunya serta rajin. Jika seseorang tidak memandang nama dan keuntungan duniawi secara ringan, dia tidak akan dapat mengetahui dengan jelas tujuannya.

Jika pikiran seseorang tidak tenang, dia tidak dapat menyadari standar yang luas. Apa yang dipelajari seseorang harus diserap sepenuhnya, dan untuk mengembangkan bakatnya ia harus belajar dengan berjerih payah.

Jika seseorang  tidak belajar dengan tekun, kemampuan dan kebijaksanaannya tidak dapat tumbuh. Jika seseorang tidak jelas akan tujuannya, ia tidak akan dapat mencapainya, bahkan melalui belajar sekalipun.

Jika seseorang  mengejar kenyamanan dan memiliki sikap malas dan ceroboh, dia tidak bisa membangkitkan semangatnya. Jika bersikap sembrono dan pemarah, seseorang tidak dapat menempa wataknya.

Kemudian, seiring masa mudanya berlalu dan keinginannya kian memudar, maka dia akhirnya akan berubah menjadi pribadi yang tidak memperoleh apa pun. Pada akhirnya, seseorang tidak akan berguna bagi masyarakat. Pada saat itulah, tidak akan ada lagi yang tersisa bagi-nya untuk dilakukan, di luar yang tersisa dalam dunianya sendiri yang sempit dan kecil, memikirkan dengan kepedihan apa yang telah hilang.

Surat kepada keponakannya:

Seorang harus memiliki cita-cita yang mulia dan agung, mengagumi orang mulia tempo dulu, melenyapkan nafsu dan melepaskan semua rintangan yang menghalangi kemajuan seseorang. Hanya dengan cara ini seseorang dapat mencapai cita-citanya dan secara sejati berubah dari dalam.

Seseorang harus mampu beradaptasi dengan situasi tertentu, mengabaikan bentuk permukaan, mendengarkan orang lain dan menghilangkan kecurigaan serta melenyapkan sikap kikir. Dengan mengikuti kebijakan seperti itu, sekalipun seseorang menderita kemunduran, ia tidak akan merusak pengaturan dan minatnya. Maka, seseorang tidak perlu mengkhawatirkan bagaimana mencapai tujuannya.

Jika seseorang tidak teguh dan tegas, semangatnya tidak tulus dan dia tidak akan berhasil, menyerah pada arus masa kini, masih tetap tidak sadar jernih dan terbelenggu oleh nafsu. Orang seperti itu pasti akan menjadi manusia biasa, atau bahkan lebih buruk lagi, untuk selamanya.

Minghui.net

Share
Posted in Motivation | Leave a comment

Sepatah Kata Yang Mengubah Jalan Hidup

Pada masa kecilnya Carnegie adalah seorang anak kecil yang sangat nakal. Ketika dia berusia 9 tahun, ayahnya menikahi ibu tirinya, dan membawa ibu tirinya pulang ke rumah.

Pada saat itu mereka tinggal disebuah pendesaan yang miskin di Virginia, Amerika Serikat. Sedangkan ibu tirinya berasal dari keluarga yang agak mampu.

Ketika ayahnya memperkenalkan kepada ibu tirinya sambil berkata kepada ibu tirinya, ?Sayangku, saya harap engkau memperhatikan anak paling nakal di daerah ini, dia memusingkan kepala saya, mungkin saja besok pagi dia akan melempar kapalamu dengan batu, atau mungkin bisa melakukan hal-hal yang lebih buruk lagi, pokoknya dia akan melakukan hal-hal yang tidak dapat kita terka.?

Diluar dugaan Carnegie, ibu tirinya sambil tersenyum datang kehadapannya, dengan tangannya mengangkat kepala Carnegie, serta memandang kearah suaminya berkata, ?Engkau salah, dia bukan anak ternakal di daerah ini, tetapi anak yang paling pintar, tetapi dia belum mempunyai arah untuk melampiaskan kepintarannya.?

Perkataan ibu tirinya membuat hati Carnegie terasa hangat, sampai ingin meneteskan air mata, karena sepatah perkataan ibu tirinya ini, mulai terjalin persahabatan antara dia dengan ibu tirinya, juga karena perkataan ini, menjadi kekuatan yang mendorong inspirasinya.

Perkataan ini juga membuat dia dikemudian hari menciptakan masa depan yang sukses dengan 28 aturan emasnya yang membantu ratusan ribu orang menuju jalan yang sukses dan menjadi kaya. Ini dikarenakan sebelum kedatangan ibu tirinya tidak ada seorangpun yang pernah memujinya pintar, dimata ayah dan para tetangganya dia adalah seorang anak lelaki yang paling nakal, tetapi ibu tirinya hanya dengan sepatah kata, telah merubah cara hidupnya.
Ketika Carnegie berumur 14 tahun, ibu tirinya menghadiahkan kepadanya sebuah mesin ketik bekas pakai, dan berkata kepadanya, dia percaya dia akan menjadi seorang pengarang yang sukses, dia menerima gagasan ibu tirinya, dan mulai menyerahkan artikel-artikel ke redaktur koran lokal, dia memahami antusiasme ibu tirinya.

Carnegie dengan mata kepalanya menyaksikan bagaimana antusiasme ibu tirinya membuat perubahan besar dan meningkatkan taraf hidup dalam keluarga mereka, dari gaya ibu tirinya terinspirasi imajinasinya dan merangsang kreativitasnya, menimbulkan kebijaksanaan yang tak terbatas, membuat dia menjadi salah satu tokoh yang paling berpengaruh di abad ke 20 ini.

sumber ; erabaru.

Share
Posted in Motivation | Leave a comment

Belenggu Cinta Suamiku

 

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Kisah Inspiratif Dari Belenggu Cinta Suamiku.

 

Share
Posted in Love story | Leave a comment

Kisah Cinta Sejati Dari Vietnam

 

 

Jika Anda kebetulan melihat seorang pria Amerika dan wanita Vietnam yang buta dan menpunyai cacat tangan, berjalan bahagia dan mesra bersama di  Kota Ho Chi Minh , Mereka adalah Donald Lee Jones dan Tran Thi Minh Tuyet,  Cinta mereka telah menhebohkan vietnam . Kisah cinta mereka dianggap sebagai bukti cinta yang tulus dari insan yang berbeda bangsa, berbeda dengan kondisi fisik , dan berbeda usia yang jauh dan utamanya ternyata berhasil meruntuhkan dendam sejarah yang muncul akibat perang vietnam dan amerika yang berpuluh tahun yang silam.

Semuanya berawal di tahun 1988,Ayah Tuyet menbawakan sebuah meja besi untuk Tran thi minh tuyet yang masih tujuh tahun untuk belajar. Tran thi minh tuyet sangat senang meja belajar itu , selain untuk belajar meja itu juga dibuat sebagai tempat bermain.
Hingga suatu hari ia menemukan benda kecil di dalam meja dan mengeluarkannya untuk membersihkannya.
Tuyet tidak tahu itu adalah peluru sisa zaman perang vietnam. dan peluru itu meledak hebat, Serpihannya mengenai bagian dari lengan Tuyet dan matanya . 
kecelakaan ini menyebabkan gadis kecil ini harus kehilangan tangan mulai dari pergelangan kirinya, telunjuk tangan kanan putus, dan paling parahnya, ia buta.

 Kecelakaan itu tidak menyurutkan tekad gadis kecil, Setelah masa depresi, ia tumbuh dan bertekad untuk tidak membiarkan dia berdiri di jalan untuk mendapatkan belas kasihan orang lain.
Dan orang tuanya tidak tinggal diam. agar mau kembali bersosialisasi, Tuyet disekolahkan disekolah tunanetra nguyen Dinh Chieu – Dalat. Tuyet adalah murid Teladan dan meskipun kebutaannya, ia lulus sebagai siswa terbaik dengan teman-temannya. 
Dia melanjutkan studi di jurusan Literatur dan Sastra Inggris di Universitas HCMC.

Setelah lulus , Tuyet makin percaya diri dengan kemampuannya. dengan bekal itu, ia mencoba melamar keberbagai perusahaan. namum, ia sadar bhawa kondisinya pasti bakal jadi hambatan. banyak yang menolak mentah-mentah lamarannya dengan tanpa syarat. dan tanpa menberikan kesempatan. Namum ia tidak menyerah dan ia terus mengirim lamaran kerja. Dan akhirnya sebuah perusahaan mau mengetes kemampuannya. Dan Tuyet pun berjuang dengan keras. dengan keuletannya dan Kenyakinannya, ia diterima kerja di perusahaan itu sebagai broker asuransi.

Setelah mengambil pekerjaan sebagai broker Perancis bermerek Asuransi Gras Savoye. 
Ia rajin menelepon calon nasabah untuk menawarkan produknya. Dikantor itu juga, ia berkenalan dengan internet. teknologi yang sangat membantunya untuk bisa bersosialisasi lintas batas, hingga lintas negara itu menjadi kawan sekaligus secara tidak langsung menjadi penentu nasib hidupnya.

Ketika mencari nasabahnya di yahoo messengger ( YM ) yang diakses keyboard khusus orang buta. Tuyet berkenalan dengan Donal Lee Jones, Seorang pengusaha yang tinggal di amerika serikat. Kemampuan bahasa inggris dari kuliahnya membuat dirinya akrab dengan Jones.

Keakrabnya berkembang jauh. Jones menyatakan cinta pada Tuyet . Meski tuyet sudah menjelaskan fisiknya kalau ia buta dan satu tangannya putus dari pergelangan tangannya, namum Jones tidak perduli. Dan Jones yang mengaku bujang hingga usia 60 tahun itu lantas berjanji akan melintasi separuh bumi untuk menemui Tuyet.

Dibulan mei, Jones memenuhi janjinya untuk datang ke Vietnam untuk bertemu Tuyet untuk pertama kalinya. 
Keduanya bertemu secara langsung dengan pujaan hatinya, dan jones menanggis saat pertama melihat Tuyet.

” Saya juga memiliki Cinta seperti orang lain dan marah serta haus akan hidup yang indah dan sempurna. Untuk mencapai tujuaan hidup itu. Seseorang harus berusaha dan harus menghadapi hambatan dengan sikap optimis dan percaya diri. Dengan optimis kita dapat menhadapi semua kesulitan dan tantangan hidup ke depan. Karena tak satu pun kehidupan yang tampa kesulitan,” Tuyet bercerita bagaimana ia bisa akrab dengan Jones. 

” Seyum Tuyet begitu indah . Dia tidak tampak menderita atau sedih karena matanya buta dan satu tangannya hilang. Ini adalah kepercayaan diri dan optimisnya yang menarik perhatian saya,” kata Jones. ” Karena itulah saya bertekad untuk menikahinya.”

Perbedaan budaya dan sisa dendam bersejarah karena jones warga Amerika serta Juga karena usia terpaut jauh 30 tahun membuat orangtua Tuyet tidak setuju.

Berbahagai halangan tidak membuat Jones putus asa.”Mereka mengangap nilai kehidupan seseorang berada di mata dan tangan. Padahal menurut saya nilai itu ada di dalam pikiran dan hati.” katanya. dengan berat hati, Jones pulang keamerika. Namum ia bertekad untuk terus menjaga hubungannya dengan Tuyet.

Dia segera meninggalkan negara vietnam dan kembali ke AS, dan  senyum Tuyet mengiringi kepergianya. 

Tujuh bulan kemudian, Jones kembali ke Vietnam. Dan membawa uang dari penjualan perusahaan konstruksinya untuk bisa tinggal lama di vietnam. Ia berusaha untuk menyakinkan Orangtua Tuyet agar mengizinkan untuk menikahi Tuyet. Ia berlajar bahasa Vietnam, Membantu orangtua Tuyet Berladang serta antar-jemput tuyet kerja dengan sepeda motor.

Sekian lama Jones akrab dengan family Tuyet dan kehidupan Vietnam. Ia tidak lagi dianggap orang asing dan bekas penjajah dari Amerika. Kedekatannya membuat luluh hati kedua orang tua Tuyet. Ketulusan Jones dalam memperjuangkan cintanya membuat ia diizinkan untuk menikahi Tuyet.

Jones akhirnya menikahi Tuyet dengan resepsi yang menhebohkan Vietnam. Kisah cinta berdua dianggap bukti cinta tulus dari dua insan yang berbeda.

Didalam kebahagian mereka setelah menikah, Tuyet terus aktif menjadi penggalang dana bantuan bagi orang cacat, agar bernasib lebih baik di Vietnam. Jones terus membantu istrinya di belakang layar. Keperduliannya mereka satu sama lain menbuat mereka hidup bahagia, serta mampu membahagiakan banyak orang disekelilingnya.   

 

“Saya akan mengatakan padanya apa yang saya lihat,”Kata si Jones.  “Bila ia tidak memiliki keberanian yang cukup untuk menjalankan. Saya akan mengambil tangannya dan mendukungnya untuk berjalan . “

Share
Posted in Love story | Leave a comment

Top Ittipat , Pengusaha Muda Yang Mendunia.

 

Jalan hidup seseorang bisa begitu berliku adanya namun selalu saja tetap ada ujungnya. Kesuksesan adalah impian semua orang. Berlikunya jalan akan sampai pada kesuksesan asalkan dijalani dengan kesungguhan hati dan kerja keras. Begitulah kisah yang terjadi dalam hidup seorang pemuda bernama Top Ittipat dalam menjalani usaha bisnisnya dan menghantarkan Tao Kae Noi, produk cemilan rumput lautnya pada dunia.
Di usianya yang ke 26 tahun ini, Top telah menjadi seorang milyuner muda. Pria kelahiran Thailand ini sesungguhnya hanyalah seorang biasa saja. Pada mulanya tak ada yang begitu spesial dari dirinya. Bahkan pemuda ini cenderung cuek dan tidak terlalu memikirkan masa depan. Seperti kebanyakan pemuda seumurannya, Top pernah alami kecanduan game online saat dia berumur 16 tahun dan membuatnya telantarkan sekolahnya. Bukan satu hal yang baik tentu saja tapi perkenalan dunia bisnis justru dimulai dari sini. Top mendapatkan uang dari menjual item senjata-senjata miliknya di game online. Dengan bisnisnya ini dia bahkan meraih penghasilan mencapai 1 juta Baht dan dapat membeli sebuah mobil seharga 600 Baht (sekitar 200 juta rupiah). Para pembelinya adalah sesama pecinta game online dan ada juga yang berasal dari luar negaranya. Namun karena ini bisnis ilegal maka sudah pasti tak akan dapat bertahan lama. Rekening game onlinenya di blok karena diketahui melakukan transaksi jual beli.
Disaat yang bersamaan bisnis orang tuanya mengalami kebangkrutan dan disaat yang bersamaan pula karena kemalasannya di sekolah selama ini Top tidak berhasil masuk kuliah perguruan tinggi negeri dan harus masuk Universitas Swasta.Dengan sisa uang yang dimilikinya Top beralih usaha ke bisnis DVD Player tapi Top ditipu mentah-mentah sebab semua DVD Playernya ternyata barang palsu dan uangnya tidak dapat kembali. Top juga berusaha mencari pinjaman uang ke bank untuk memulai usaha baru. Namun, pihak bank tak begitu saja menyetujuinya.
Di titik inilah Top mulai menyadari kesalahannya karena telah melalaikan sekolah dan pelajaran. Di titik yang sama ini jugalah, Top mulai bersentuhan dengan kerasnya dunia bisnis. Hutang yang melilit usaha orang tuanya yang mencapai 40 juta Baht semakin memperburuk keadaan. Terlebih lagi rumah mereka disita pihak Bank. Ditengah himpitan ini Top tetap berkeras. Setelah akhirnya dapatkan pinjaman dari bank, segala hal dia coba lakukan, Top mencoba berjualan kacang (chesnut) bersama dengan pamannya. Diawali dengan mencari cara bagaimana strategi berjualan yang baik supaya bisa laris kepada para penjual kacang lainnya yang telah sukses sampai lakukan beberapa eksperimen untuk mendapatkan resep terbaik bagi produk kacangnya sehingga memiliki cita rasa yang khas dan unik. Lalu akhirnya Top membuka kedai di mal dan belajar tentang menemukan tempat yang stategis. Sebab lokasi menjadi salah satu faktor menentukan dalam keberhasilan penjualan suatu produk.

Namun berwiraswata memanglah tidak mudah. Saat Top mulai melakukan ekspansi bisnis chesnutnya secara besar-besaran, timbul suatu masalah lain dimana mesin pembuat kacang goreng yang Top pergunakan menimbulkan asap dan mengotori atap Mall sehingga harus tutup dan pihak Mal juga membatalkan kontrak kedainya.
Dititik ini Top hampir putus asa. Orang tuanya pun memutuskan untuk pergi ke China. Top tetap berkeras untuk bertahan di Thailand dan melanjutkan usahanya. Dari bisnis jual kacang, Top beralih haluan untuk berbisnis rumput laut goreng. Makanan cemilan yang kekasihnya berikan. Inspirasi memang bisa datang dari mana saja, sekalipun akhir kisah cintanya tak memberikan kenangan yang manis sebab kekasihnya pun akhirnya meninggalkan Top dikarenakan Top lebih konsentrasi mengurus bisnis dan usahanya.
Top pun memulai usaha kerasnya dengan mencari bahan rumput laut lalu belajar rahasia menggoreng rumput lautnya. Biaya yang dikeluarkan untuk pembelajaran ini mencapai lebih dari 100 ribu Baht. Belum lagi Top juga harus mempelajari cara untuk mempertahankan rumput lautnya agar tidak basi jika disimpan untuk beberapa hari lamanya.
Dalam tekanan yang begitu hebat Top berusaha mencari tahu tentang strategi penjualan dan inspirasi pun datang kembali untuk menjual produknya di mini market 7-Eleven. Lagi-lagi tidak semudah membalik telapak tangan. 7-Eleven ternyata memiliki standard yang tinggi yang harus dipenuhi supaya produk Top bisa masuk pasaran. Berbagai upaya Top lakukan tapi semua mengalami kebuntuan.
Keputusasaan melanda dirinya. Top hampir-hampir memutuskan untuk berangkat ke China tapi sebelum itu terjadi Top melakukan usaha terakhirnya demi memenuhi syarat dari pihak 7-Eleven dan upaya penghabisannya kali ini tidak sia-sia. Kesulitan yang ada mulai dari inovasi untuk kemasan produknya sampai Top juga diharuskan memiliki pabrik untuk memproduksi dalam jumlah besar. Dengan susah payah semuanya dapat terpenuhi. Untunglah juga ada kantor kecil milik keluarganya yang masih tersisa, yang akhirnya Top ubah menjadi sebuah pabrik kecil. Dengan begini Top berhasil memenuhi syarat ketentuan serta quota yang ditetapkan. 2 tahun kemudian Top berhasil membayar hutang keluarganya dan berhasil mengambil kembali rumah keluarganya.

Perjuangan Top, segala kegagalan, getir dan pahit serta rasa duka dalam membangun sebuah bisnis kini mengantar Top pada sebuah kesuksesan. Sekarang ini di Thailand siapa yang tak mengenal akan Tao Kae Noi produk cemilan rumput laut terlaris di Thailand bahkan telah masuk juga ke berbagai Negara tetangga termasuk Indonesia. Dengan penghasilan 800 juta Baht per tahun dan mempekerjakan 2.000 staf maka Top Ittipat yang bernama lengkap Top Aitthipat Kulapongvanich ini telah berhasil mencatatkan dirinya sebagai a young billionaire from Thailand.

Apapun yang terjadi jangan pernah menyerah, kalau menyerah habislah sudah.” Begitulah kutipan kalimat inspiratif dari Top Ittipat dalam sebuah wawancara dengan media.
Great job Top!!

Tania Tobing

Sumber : Vibiz News

Untuk kisah selengkapnya, nonton Film “The Billionaire” Based on true story Top Ittipad.

Share
Posted in Success stories | Leave a comment

Di Balik Rahasia Orang Sukses

 

Psikolog umumnya setuju bahwa kemampuan mengontrol diri adalah kunci dari? perasaan bahagia, percaya diri, kekuasaan, dan kesejahteraan pribadi. Kemampuan mengontrol diri hanya mungkin tercapai jika Anda berlatih keterampilan manajemen waktu dengan sangat baik. Waktu adalah sumber daya paling berharga.

Berikut ini beberapa tips untuk membantu mengelola hari-hari Anda:

1. Menetapkan Tujuan Spesifik

Stephen Covey berbicara tentang prinsip memulai dengan berpikir mendalam, yaitu di mana Anda harus memiliki visi hasil yang jelas sebelum memulai setiap tugas. Ketika bermain golf, Tiger Woods selalu membayangkan setiap tembakannya sebelum ia mengayunkan tongkat golf.

Miliki strategi dan rencanakan tujuan untuk mengisi hari Anda. Ketika Anda akan memulai aktivitas setiap pagi, berpikirlah tentang tiga tujuan paling penting untuk hari itu, sembari menghubungkannya dengan tujuan mingguan, bulanan dan tahunan.

Berikut tips untuk menetapkan cita-cita: sesuatu yang Anda inginkan, harus cukup menggairahkan Anda, namun cukup realistis untuk dapat dicapai. Menurut guru manajemen, Brian Tracy: Anda harus merasa seolah-olah hanya memiliki kesempatan 50 persen untuk mencapai tujuan Anda.

2. Membuat Blok Waktu

Belajar untuk melindungi waktu Anda dan mengatakan ?tidak? saat diinterupsi. Membuat blok waktu agar dapat fokus pada kegiatan yang ingin segera Anda selesaikan. Matikan semua perangkat teknologi selama 60 menit sehari dan fokus melakukan pekerjaan yang terpenting.

Dalam menangani proyek-proyek penting, yang diperlukan adalah fokus dan dedikasi penuh dari Anda; membuat blok waktu di mana Anda tidak akan terganggu oleh telepon, email, dan pertemuan, akan membantu Anda menyelesaikan tugas penting yang ingin dicapai. Beberapa orang mengalokasikan periode waktu tertentu, 30-60 menit? setiap hari untuk berlatih.

Banyak orang membaca buku-buku terkenal 15 menit setiap malam sebelum beristirahat. Kunci sukses metode bekerja di segmen waktu tertentu adalah merencanakan hari Anda di muka, dan jadwal khusus dalam jangka waktu tetap untuk aktivitas atau tugas tertentu.

Tidak segera menanggapi setiap email terkecuali sangat mendesak dan penting. Meskipun setiap email mungkin membutuhkan hanya beberapa menit untuk menulis dan mengirim, jika semua menit terakumulasi akhirnya mengurangi perhatian, energi, dan fokus Anda, sehingga menyebabkan pikiran Anda merasa berkecamuk, seolah-olah Anda memiliki seratus hal-hal yang perlu dilakukan sekarang.

Richard Branson, pendiri Virgin Group, perusahaan Inggris yang memiliki 400 anak perusahaan, hanya memeriksa Blackberry-nya tiga kali sehari. Sebuah studi di Microsoft menunjukkan bahwa perhatian berkecamuk akan mengakibatkan penurunan produktivitas. Satu kelompok penelitian menunjukkan bahwa kita memiliki lebih dari empat interupsi per jam. Studi menunjukkan bahwa 40 persen tugas yang diinterupsi tidak akan dilanjutkan kembali setelah gangguan.

3. Beristirahat di Antara Jam Kerja

Pertama, bekerja dalam siklus 90 menitan. Banyak penelitian ilmiah sekarang mengonfirmasikan bahwa pekerjaan yang optimal berbanding dengan istirahat. Kedua, mengambil sehari dalam seminggu sebagai hari pemulihan lengkap untuk mengisi bahan bakar dan regenerasi (yang berarti tidak ada email, tidak ada panggilan telepon dan pekerjaan).

Leonardo da Vinci cenderung mengambil tidur siang pendek saat bekerja pada Kapel Sistina, hal ini bertentangan dengan keinginan orang yang mempekerjakannya. Dia merespon dengan mengatakan bahwa ia dapat mencapai hasil lebih dengan bekerja kurang.

Para atlet top menghabiskan 80% dari waktu musim libur dalam setahun mereka, sebagai persiapan memperoleh energi maksimal dalam waktu yang sangat pendek dan intens. Atlet membangun kapasitas mereka dengan memacu otot-otot melampaui kapasitasnya saat itu, kemudian memulihkan dan membangunnya kembali.

Di sisi lain, kebanyakan orang di dunia usaha menghabiskan 95 persen waktu mereka dengan mengeluarkan energi di tempat kerja dan mendapatkan libur hanya beberapa minggu per tahun. Jika Anda tidak beristirahat dan memulihkan diri, maka tidak akan bisa meningkatkan kapasitas Anda, dan akan berlaku hukum penurunan hasil pada kinerja Anda, baik energi maupun produktivitasnya.

4. Fokus pada Prioritas

Terus mengingatkan diri sendiri tentang hukum 80/20, yakni dari 20 persen yang Anda lakukan, akan menghasilkan sebesar 80 persen. Mengetahui pekerjaan apa yang membawa hasil maksimal, dan kemudian fokus pada kegiatan dan proyek-proyek yang akan berkontribusi terhadap keberhasilan terbesar. Memahami perbedaan antara sesuatu yang mendesak dan aktivitas penting, sehingga tidak hanya akan membuat Anda lebih produktif, tetapi akan secara drastis mengurangi tingkat stres Anda.

Sebuah masalah dapat jadi mendesak dan penting (tugas penting dengan batas waktu), mendesak tetapi tidak penting (misalnya panggilan telemarketing), penting tapi tidak mendesak (proyek besar yang Anda kerjakan), atau tidak ada pekerjaan (menelusuri internet). Kita perlu mengembangkan kemampuan cepat untuk mengidentifikasi interupsi mendesak dan penting yang perlu segera ditangani, serta sisihkan sisa tugas untuk ditangani secara berkala ketika mereka tidak lagi mengganggu kita dari tugas-tugas yang menjadi fokus untuk diselesaikan.

5. Tangani Tugas Tersulit Saat Pikiran Jernih

Beberapa orang menemukan bahwa mereka lebih merasa jernih dan energik di pagi hari atau setelah makan siang. Waktu apa pun itu, lakukan tugas yang paling sulit di saat itu. Gunakan waktu tersebut untuk mempermudah tugas Anda. Dengan menangani tugas tersulit Anda saat berada dalam kondisi terbaik, Anda akan lebih jadi efektif dan efisien dalam menyelesaikannya.

Apabila waktu paling efektif Anda di pagi hari, selesaikanlah? tugas Anda yang paling penting terlebih dulu. Ini akan memberikan kemenangan psikologis, yang efektif mendorong aktivitas pada hari itu. Jadwalkan kegiatan dan tugas biasa di hari itu, ketika Anda merasa kurang efektif dan was-was.

Terburu-buru dalam melakukan pekerjaan penting, atau bahkan lebih baik mendelegasikannya pada orang lain. Begitu sering kita menghabiskan terlalu banyak waktu yang tidak penting. Seorang investor jenius, Warren Buffett, suka berkata, ?Apa yang tidak layak dilakukan bernilai tidak baik.?

Share
Posted in Motivation | Leave a comment

Uang Coin Dalam Sepatu

Seorang pria muda, mahasiswa di salah satu universitas, suatu hari berjalan-jalan dengan seorang profesor, yang biasa disebut sebagai ?teman mahasiswa.?

Saat berjalan bersama, mereka melihat sepasang sepatu tua yang tergeletak di jalan. Mereka menduga milik seorang miskin yang bekerja di dekat lapangan, dan hampir selesai dari pekerjaannya.

Mahasiswa itu menoleh kepada profesor dan berkata: “Mari kita kerjain pemilik sepatu ini. Kita akan menyembunyikan sepatunya, lalu kita menyembunyikan diri di balik semak-semak dan menunggu untuk melihat kebingungannya ketika dia tidak dapat menemukan sepatunya”

Mendengar ajakan mahasiswa itu, sang profesor menjawab, “Teman mudaku, kita seharusnya tidak menghibur diri dengan mengorbankan orang miskin. Karena kamu kaya, mungkin akan dapat memberikanmu kesenangan yang jauh lebih besar melalui orang miskin ini. Masukkan uang koin ke dalam masing-masing sepatu. Kemudian kita akan menyembunyikan diri untuk melihat bagaimana penemuan koin itu akan mempengaruhi dirinya. ”

Mahasiswa itu melakukan ide yang disarankan sang profesor. Mereka berdua menyembunyikan diri di balik semak-semak disekitarnya. Orang miskin tersebut segera menyelesaikan pekerjaannya, menuju ke lapangan tempat dia meninggalkan mantel dan sepatu.

Sambil mengenakan mantelnya dia memasukkan kakinya ke salah satu sepatunya, tetapi merasa ada sesuatu yang keras, dia membungkuk untuk melihatnya dan menemukan sebuah uang koin. Perasaan heran dan bertanya-tanya terlihat di wajahnya. Dia menatap koin, melihat lagi dan lagi.

Dia kemudian melihat ke sekelilingnya di semua sisi, namun tidak ada orang yang terlihat. Dia sekarang memasukkan uang koin itu ke dalam sakunya, dan mulai mengenakan sepatu yang satunya. Dia terkejut untuk dua kalinya karena menemukan koin yang lain.

Perasaan gembira menyelimuti hatinya, dia jatuh berlutut, menengadah ke langit dan mengucapkan keras-keras rasa syukur yang sungguh-sungguh, di mana ia berbicara tentang istrinya yang sakit dan tak berdaya, serta anak-anaknya yang tanpa persediaan roti di rumah. Dia merasakan karunia tepat waktu dari beberapa tangan yang tidak diketahui, dan telah menyelamatkannya dari kehancuran.

Mahasiswa itu berdiri di sana sangat tersentuh hatinya dan sangat terharu, matanya penuh dengan air mata.

“Sekarang bukankah hal ini membuat kamu menjadi jauh lebih baik dibanding dengan kesenangan kamu mempermainkan perasaan orang lain dengan perbuatan usil yang kamu maksudkan?” kata profesor

Si pemuda menjawab, “Anda telah mengajari saya sebuah pelajaran yang tidak akan pernah saya lupakan. Sekarang saya telah merasakan kebenaran kata-kata Anda, yang saya tidak pernah mengerti sebelumnya. Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.?

sumber : era baru

Share
Posted in Attitude | Leave a comment

Kisah Tukang Sampah Indonesia di Televisi Inggris

Laporan mengenai kisah tukang sampah Jakarta yang disebut sebagai kota dengan pertumbuhan kota yang cukup pesat di dunia ditayangkan stasiun televisi Inggris BBC2, Minggu (29/1/2012) malam.

Laporan wartawan BBC London berjudul “Toughest Place to be a Binman” yang membandingkan tukang sampah di London dan Jakarta itu menarik perhatian masyarakat Indonesia tidak saja di Inggris, tetapi juga di Brussels dan Amerika Serikat yang bisa menyaksikan tayangan tersebut melalui BBC Iplayer.

Selama satu jam, laporan itu mengisahkan mengenai Imam, tukang sampah di Jakarta yang bekerja mengumpulkan sampah setiap hari dengan gerobaknya. Sementara di awal tayangan, tukang sampah dari Inggris, Wilbur Ramirez, menggunakan truk dan bekerja dengan dua rekannya.

Dalam laporan mendalamnya itu, BBC London membandingkan bagaimana kerja tukang sampah yang dikenal dengan binman di Inggris dengan tukang sampah di Jakarta yang sangat jauh berbeda dilihat dari berbagai segi, bahkan kesehatan dan keselamatan.

Bahkan Wilbur Ramirez, ayah dua anak itu, pun hidup bersama Imam dan keluarganya di perkampungan miskin di tengah tengah kehidupan Kota Jakarta yang kaya dan sangat timpang antara yang kaya dan miskin.

Wilbur Ramirez selama 10 hari mengikuti Imam bekerja mengumpulkan sampah di kota yang disebutkan sebagai kota yang padat penduduk dan sampah yang menjadi masalah besar. “Kamu bekerja dengan siapa saja,” tanya London binman, Wilbur Ramirez, kepada Imam yang dijawab bahwa ia bekerja sendiri mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah.

Menangis Melihat kehidupan Imam, ternyata Wilbur sering kali merasa terharu dan bahkan meneteskan air mata. Mana mungkin dengan gaji yang tidak seberapa Imam dapat hidup bersama anak dan istrinya meskipun mereka sama-sama bekerja sebagai tukang sampah selama lima tahun.

Zulindatando Berry Natalegawa menulis di laman Facebook-nya, “Sediiiiiih banget liat acara di BBC 2 di London hari ini acara seorang bin man London ke Jakarta berbagi pengalaman.”

“Sangat memalukan sekali Kota Jakarta ternyata sangat kotor dan masih terbelakang sekali cara kerjanya,” ujar istri Berry Natalegawa, kakak Menlu Marty Natalegawa.

Menurut Linda, demikian Zulindatando Berry Natalegawa biasa disapa, seharusnya para pejabat malu menyaksikan acara yang menjadi perhatian masyarakat di Inggris. “Apa enggak malu? Malah wakil rakyat seenak-enaknya ambil uang rakyat, apalagi pemimpin negara yang tidak peduli, sangat memalukan. Semoga Allah bukakan mata dan telinga para pemimpin negara ini,” ujar Linda yang bekerja di Kedutaan Besar Brunei Darussalam di London dan merekam program tersebut serta akan membawanya ke Jakarta.

Dalam laporannya disebutkan, Wilbur pun ikut mengumpulkan sampah dan bahkan menjajal melakukannya seorang diri dari rumah ke rumah. “Sampah….,” teriak ayah dua anak yang istrinya tidak merasa malu kalau suaminya menjadi tukang sampah itu.

Wilbur pun tidak dapat membendung air matanya ketika berkisah bagaimana kehidupan Imam dengan keluarganya yang tidak tersentuh oleh pelayanan kesehatan.

Dari dunia kesehatan dan keselamatan sadar pengelolaan limbah Inggris, Wilbur pun merasa takjub bagaimana sampah yang menumpuk di Bantar Gebang dan dikerumuni oleh para pemulung tanpa memperhatikan kesehatan dan keselamatan mereka. “Nangis aku nontonnya…..bukan nangisin tukang sampah Inggris, tetapi rakyat kita yang kerja mengais-ngais sampah,” ujar Yanti Hitalessy.

Laporan dari BBC itu pun menjadi bahan diskusi di laman Facebook yang, antara lain, disebut oleh Lies Parish. Meskipun sama-sama berprofesi sebagai tukang sampah atau binman, tetapi pekerjaan dan kehidupan mereka sungguh jauh berbeda.

“Bahkan London binman pun sampai menangis menyaksikan bagaimana tukang sampah di Jakarta,” ujar Lies Parish yang lebih dari 14 tahun menetap di Inggris.

Hamiyah Panama, ibu Amelie yang pernah menetap di Inggris dan kini tinggal di Brussels yang juga menyaksikan tayangan tersebut, mengakui bahwa benar-benar kontras kehidupan di sana, miris.

Begitu pun Tjatri Dwimunali yang tinggal di Bristol. Ia menulis, tukang sampah di Inggris yang ikut bekerja sebagai tukang sampah di Jakarta pun merasa prihatin akan nasib tukang sampah di Jakarta, dan bahkan sering menangis melihat keadaan tukang sampah di Jakarta.

Di akhir laporannya, Wilbur tidak dapat membayangkan perjalanan kehidupan Imam dengan gaji yang tidak seberapa itu dan ketidakberdayaannya untuk mengubah keadaan.

Pada akhirnya, setelah berbicara dengan ketua RT setempat, Wilbur meminta agar Imam mendapat kenaikan gaji dan hal itu pun dapat dikabulkan.

sumber :ANT

 

Share
Posted in Attitude | Leave a comment

Bertemu Mama dalam Mimpi

 

Kisah Uudan Yang menyanyikan lagu  mama dalam mimpi.

 

 

Share
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dewa Dapur

Konon dikisahkan Zao Jun sebenarnya adalah seorang manusia yang hidup di bumi dengan nama Zhang Lang. Dalam kehidupannya itu, ia menikah dengan seorang wanita yang baik budi, namun karena gelap mata dan nafsu sesaat, Zhang Lang jatuh cinta kepada seorang wanita muda. Ia akhirnya meninggalkan isterinya untuk tinggal bersama kekasih barunya tersebut. Karena perbuatan yang amoral tersebut, Langit menghukum dirinya dengan sebuah ketidakberuntungan berupa mengambil penglihatan Zhang Lang.

Melihat Zhang Lang menjadi buta, wanita muda kekasih barunya tersebut meninggalkannya seorang diri. Dan Zhang Lang menjadi miskin dan ia pun menjadi pengemis untuk menyokong kehidupannya.

Suatu hari, saat Zhang Lang meminta-minta untuk sedekah, tanpa diketahuinya ia melewati rumah mantan isterinya dan bertemu dengan mantan isterinya. Namun Zhang Lang tidak mengenalinya karena ia telah buta. Meskipun telah memperlakukannya dengan tidak baik, sang isteri merasa iba kepadanya, dan mengundangnya untuk masuk ke dalam rumah.

Sang isteri memasak makanan yang lezat dan merawatnya dengan penuh kasih. Kemudian Zhang Lang menceritakan kisah hidupnya kepada mantan isteri yang tidak ia sadari berada di dekatnya, dan ia diliputi rasa kasihan pada dirinya sendiri dan merasa menderita atas perbuatan yang pernah ia lakukan, dan ia pun mulai menangis menyesalinya dan memohon maaf.

Setelah mendengar permohonan maaf Zhang Lang, mantan isterinya memintanya untuk membuka mata, dan pada saat itu juga penglihatan Zhang Lang menjadi pulih.

Pulihnya penglihatan Zhang Lang membuat ia mengenali wanita yang berada di hadapannya. Saat ia mengenali wanita di hadapannya adalah mantan isterinya, ia merasa sangat merasa malu dan melemparkan dirinya ke perapian dapur yang tanpa ia sadari ada api yang masih menyala di sana. Tubuh Zhang Lang pun terbakar. Mantan isterinya berusaha untuk menyelamatkannya, namun sayang ia hanya dapat menyelamatkan satu kakinya saja. Zhang Lang pun tewas.

Menurut kepercayaan, konon, mereka yang meninggal secara tidak wajar seperti bunuh diri, setelah mati mereka akan menjadi mayat hidup atau zombi yang melompat-lompat yang disebut dengan Jiang Shi. Namun, karena Langit merasa iba dengan kisah Zhang Lang, maka Langit mengangkatnya menjadi Dewa Dapur dan akhirnya dapat bersatu kembali dengan isterinya.

Demikianlah salah satu Kisah Imlek, Cerita Tragis Dewa Dapur Coa Kung Kong atau Zao Jun atau Zao Shen. Dan kisah tersebut memberikan pelajaran kepada kita mengenai pentingnya kesetiaan kepada pasangan hidup dan penyesalan akan selalu datang terlambat karena itu kita perlu berhati-hati dalam setiap tindakan kita agar kita tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang akan membawa penyesalan diri.

Share
Posted in Legend | Leave a comment